ARCHIVES

Showing posts with label REVIEWS. Show all posts
Showing posts with label REVIEWS. Show all posts

July 7, 2023

Dendang Lalai : Semakbelukar dan Diskursus Kemelayuan


 


Pada Desember 2013, Semakbelukar resmi membubarkan diri saat penampilan terakhir mereka di Kineruku, Bandung. Acara itu sedianya menjadi release party dari beberapa album Semakbelukar yang sebelumnya dirilis oleh Elevation Records. Namun apa dinyana, acara tersebut menjadi penampilan terakhir Semakbelukar. Pihak penyelenggara, Elevation Records, baru mengetahui Semakbelukar telah sepakat membubarkan diri saat Semakbelukar tiba di Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan untuk manggung di Jatiluhur dan Bandung. Apa yang tersaji dalam rilisan cakram padat bertajuk Dendang Lalai ini adalah hasil rekaman langsung saat Semakbelukar manggung untuk terakhir kalinya di Bandung. Berisi 14 tracks yang terdiri dari 13 lagu Semakbelukar dari album-album sebelumnya dan 1 lagu cover Kocani Orkestar berjudul Shiki-Sihiki Baba.

Jika pada rilisan lain yang direkam secara live kita akan disuguhi lagu-lagu yang dibawakan secara langsung. Riuh dan gemuruh suara penonton sengaja terekam untuk menambah atmosfer panggung ke dalam rekaman. Format live biasanya sedikit berbeda dengan format rekaman, begitu pun dengan hasil akhirnya. Bisa terdengar lebih enak atau lebih buruk. Tetapi jujur saja, saya tidak memiliki kemampuan menilai ketat lagu-lagu versi live dari Semakbelukar ini karena toh inti musik melayu bukan hanya pada nada yang dimainkan tetapi pada pesan yang ingin disampaikan. Semakbelukar mewarisi kekuatan tradisi lisan melayu pada liriknya. Hanya sayang dalam rilisan Dendang Lalai ini tidak mencantumkan liriknya. Beberapa lagu memang terdengar berbeda namun ada hal lain yang bagi saya pribadi lebih menarik.

Poin penting dari rilisan ini adalah terekamnya statemen-statemen dari para personel Semakbelukar pada jeda antar lagu sepanjang acara. Komentar mereka atas penilaian khalayak yang melihat mereka sebagai messiah bagi kesenian melayu, sampai penjelasan versi personel Semakbelukar tentang asal muasal musik melayu. Terutama komentar mereka tentang musik melayu, penjelasan tersebut tidak singkat jika menilik antara durasi mereka berbicara dengan lama lagu yang dibawakan. Mendengarkan Dendang Lalai secara keseluruhan sedikit berasa sedang mendengarkan rekaman podcast yang ditambahi musik. Bagi seseorang yang bukan asli Sumatera Selatan seperti saya, mendengar karya Semakbelukar berasa sama eksotisnya dengan pengalaman setiap kali menjelajahi area rawa gambut di pedalaman Sumatera yang belum terkonversi menjadi kebun sawit.

Di antara komentar personel Semakbelukar yang terekam dari acara tersebut salah satunya yang dapat memantik diskursus lanjutan ialah mengenai pencampuran unsur berbagai budaya yang membentuk musik melayu sekarang ini. Dengan kata lain, musik melayu adalah hasil hibridasi beragam kebudayaan yang pernah saling berinteraksi di area melayu. Komentar itu mengingatkan saya pada beberapa tulisan dari etnomusikolog seperti Andrew Weintraub dan Elizabeth Kartomi yang menelusuri adanya pencampuran beragam kebudayaan pada budaya melayu. Keunikannya terletak pada internalisasi beragam budaya tersebut pada masing-masing komunitas di area Melayu sehingga dapat terdengar langgam perbedaan musik melayu dari beragam daerah. Hibridasi kebudayaan yang membentuk musik melayu tidak lepas dari sejarah panjang perdagangan global di area Selat Malaka sejak berabad-abad lampau.

Pengakuan atas hibridasi dalam kebudayaan melayu adalah hal yang cukup jarang terdengar di ranah lain yang mengangkat budaya melayu. Setidaknya jika berkaca dari apa yang terjadi di Palembang sekarang. Alih-alih mengakui keragaman, apa yang muncul adalah pendefinisian ketat atas kebudayaan melayu yang berujung klaim siapa yang paling melayu. Baik dari sebagian para budayawan maupun akademisi lokal. Oleh karena itu, apa yang terekam dalam Dendang Lalai dapat ditempatkan juga sebagai dokumentasi dari pelaku kesenian melayu dengan perspektif yang berbeda.

Semakbelukar di saat membubarkan diri merasa tidak harus peduli lagi pada kesenian melayu, namun dari karya-karyanya sedikitnya mempengaruhi pihak lain untuk memikirkan kembali bagaimana kesenian melayu harus dikemas. Sebut saja seperti band folk melayu Sumatera Selatan dari generasi yang lebih muda seperti Diroad dan Candei meski dengan konsep musik yang berbeda. Musik melayu Semakbelukar di telinga saya terdengar begitu “Deli” dibanding generasi folk melayu berikutnya dari Sumatera Selatan.

Akhir kata, Dendang Lalai memercik sedikit penyesalan kenapa tidak bisa hadir pada acara di Kineruku tersebut. Hanya bisa menyaksikan beberapa hasil jepretan foto dari beberapa kawan di laman Facebook, termasuk foto-foto saat para personil Semakbelukar melakukan aksi destruktif selepas manggung. Peralatan musik dihancurkan sebagai aksi simbolik bahwa Semakbelukar telah usai. Saat Semakbelukar manggung di Bandung, saya justru tengah berada di Palembang. Sebagai pengantin baru yang sedang banyak berdiskusi apakah suami ikut istri tinggal di Bandung atau suami yang ikut istri tinggal di Palembang. Pada akhirnya saya yang harus berganti KTP.

---

 artikel ini pernah dipublish sebelumnya di Jurnal Spektakel, September 2021.

August 25, 2019

Perang Yang Tidak Akan Kita Menangkan


Perang Yang Tidak Akan Kita Menangkan : Anarkisme & Sindikalisme Dalam Pergerakan Kolonial Hingga Revolusi Indonesia (1908-1948)

Penulis : Bima Satria Putra
Penerbit : Pustaka Catut
Tempat Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2018
Tebal Halaman : 255 + xxiii

Beberapa tahun lalu saya pernah mengkritik jurnal Amorfati tentang kesulitan pembaca awam untuk melihat keterhubungan dan benang merah antara insureksi dan pembangkangan sosial di luar negeri dengan apa yang terjadi di Indonesia. Salah satu penekanannya ialah karena upaya untuk memperlihatkan keterhubungan tersebut tidak didukung oleh data yang mumpuni atas berbagai peristiwa sejarah di Indonesia. Oleh karena itu dengan keluarnya buku yang ditulis oleh Bima Satria Putra ini, potongan sejarah yang hilang tentang sejarah anarkis sindikalis di Indonesia dapat menjadi lebih terang.[1]

Dalam resensi buku ini saya tidak akan menjelaskan kembali pengertian anarkis dan sindikalis secara teoritis yang telah berulang kali diilustrasikan salah dan disematkan keliru oleh media dan politisi sebagai label-label tertentu sebagai penyederhanaan yang melenceng atas satu aliran pemikiran yang menentang terminologi negara modern sebagai sesuatu yang alamiah dan dibutuhkan manusia. Buku dari Bima Satria Putra ini tidak disusun sebagai karya teoritis tetapi dalam pemaparannya anarkisme dan sindikalisme secara bertahap dapat terdefinisikan serta memperlihatkan bagaimana keberadaan aliran pemikiran tersebut pada irisannya dengan marxisme yang lebih hegemonik. Pembuktian bahwa anarkisme dan sindikalisme hadir di Indonesia sejak lama tidak hanya dalam tataran teoritis namun pada praksis dapat saya simpulkan merupakan tujuan utama karya hasil penelitian ini disusun.

Sebelum buku ini keluar, beberapa usaha dilakukan oleh kelompok anarkis di Indonesia untuk menjelaskan bahwa tendensi anarkisme pernah aktif terutama di kalangan buruh dan kelompok kiri di luar Partai Komunis Indonesia. Kenapa usaha-usaha tersebut tidak begitu berhasil? Pertama, sebelumnya tidak pernah ada orang yang berasal dari lingkungan anarkis yang mempunyai ketertarikan serius menggali dan memiliki kemampuan menyusun puzzle-puzzle sejarah anarkis di Indonesia dengan metode sejarah yang benar. Apa yang muncul sebelumnya hanya cukilan-cukilan kisah dengan konteks revolusi Indonesia yang menggambarkan bagaimana gerakan kolektif dari kelompok sosial yang tereksploitasi untuk menumbangkan otoritas kolonial dan menolak tunduk pada otoritas baru (baca : Republik Indonesia). Kedua, masih adanya prasangka kolot yang terwariskan dari kekanak-kanakannya pertengkaran antara Bakunin dan Marx dari kelompok anarkis terhadap marxisme sehingga sedikit banyak menghindari pembacaan atas buku atau literatur yang menuliskan tentang sejarah komunis atau yang dituliskan oleh kalangan komunis bahkan nasionalis. Sikap tersebut pada akhirnya menghambat proses pencarian data yang justru pada literatur-literatur tersebut berserakannya informasi mengenai anarkis dan sindikalis di Indonesia. Penulis buku ini dapat melampaui hambatan-hambatan tersebut.

Menelusuri jejak anarkisme dan sindikalisme di Indonesia lalu menuliskannya sebagai historiografi lebih sulit dibanding dengan penelitian dengan tema serupa pada skup waktu yang tidak terlalu lampau. Bukan hanya pada hambatan pencarian data-data primer namun juga sulitnya menilai tendensi anarkisme atau sindikalisme pada kelompok atau individu yang tidak mengklaim atau memproklamirkan dirinya sebagai anarkis atau sindikalis. Berbeda dengan kelompok anarkis atau sindikalis hari ini yang dapat dengan mudah ditemukan melalui nama yang sekaligus menjadi identitas politik kelompok dan individu yang disematkan oleh dirinya sendiri. Dilihat dari sumber data dan bibliografi pada buku ini nampak bahwa pencarian dan pengumpulan data banyak didapatkan dari dokumen dan arsip tulisan baik itu yang ditulis oleh individu yang dinilai sebagai anarkis itu sendiri atau penilaian dari pihak lain yang sezaman.

Nama Alimin Prawirodirdjo dan Ernest Douwes Dekker cukup familiar dikenal sebagai dua tokoh yang karena aktivitas politiknya diganjar gelar pahlawan oleh pemerintah Orde Lama. Tokoh pertama lebih dikenal sebagai tokoh komunis sedangkan yang kedua dianggap berjasa karena sikap nasionalisnya namun siapa sangka bahwa kedua tokoh ini di masa mudanya cenderung mendekap tendensi politik anarkis sebagaimana yang dipaparkan dalam bagian 2 dan bagian 3 buku ini. Pada buku ini juga dijelaskan bahwa dalam kondisi zaman di mana munculnya kesadaran politik dan gerakan anti kolonialisme di tanah jajahan di awal abad ke-20, paham anarkis dan sindikalis masuk ke Hindia Belanda ikut terbawa oleh para aktivis buruh dari Belanda. Pemikiran politik tersebut menyemai di kalangan intelektual muda yang mendorong kelompok sosial baru itu menjadi aktor-aktor utama gerakan politik buruh yang tidak hanya menuntut perbaikan kesejahteraan buruh namun juga berusaha melawan otoritas negara kolonial.

Perlu sedikit ditambahkan bahwa ragam pemikiran politik radikal yang berasal dari Eropa di tahun-tahun pergerakan tersebut lumrah diserap oleh sekelompok kecil intelektual muda yang melek huruf dan dapat berbahasa asing, banyak di antaranya bahkan poliglot, di antara jutaan rakyat negeri jajahan yang buta huruf melalui buku atau literatur berbahasa asing. Sebenarnya tidaklah terlalu mengherankan jika pada akhirnya tendensi anarkis dan sindikalis dapat bersemai di Hindia Belanda karena pada kelompok lainnya seperti kelompok nasionalis dan kelompok Islam, terutama yang pernah dekat dengan lingkaran elit Sarikat Islam awal, pun literatur-literatur radikal dari Eropa tersebut beredar. Sebagai contoh, seorang Kasman Singodimedjo yang dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah dan salah satu pendukung paling keras agar Islam dijadikan dasar negara Indonesia pun dapat mengutip buah pemikiran tokoh komunis seperti Rosa Luxemburg sambil menunjuk kutipan lainnya dari Al-Qur’an untuk mempertegas sikap politiknya.[2] Seorang Soekarno pun sampai merasa harus memberikan pandangannya tentang anarkisme, sebagai mana yang tertulis dalam tulisan berjudul Anarchisme yang dimuat pada majalah Fikiran Ra’jat pada 1932 (halaman 165 pada buku ini).

Buku ini menjelaskan kecenderungan anarkis dan sindikalis dalam tubuh kelompok yang digeneralisir sebagai komunis saat masa kolonial dan menunjukan aksinya tidak hanya pada apa yang dikenal sebagai insurgensi PKI pada 1926 untuk melawan kolonial Belanda namun juga di tahun-tahun revolusi setelah negara Indonesia lahir. Insurgensi yang dilancarkan oleh kelompok-kelompok sosial yang tereksploitasi tidak serta merta dapat disimpulkan sebagai pencerminan nasionalisme. Kesimpulan yang sama juga dapat ditemukan dalam karya lainnya mengenai pemberontakan komunis pada 1927 di Silungkang, Sumatera Barat, karya Mestika Zed yang melihat bahwa keluhan ekonomi dan sosial menjadi akar munculnya militansi dan terjadinya kekerasan merupakan jalan terakhir setelah serangkaian protes sebelumnya tidak pernah berhasil. Bahkan pada peristiwa di tanah Minang tersebut meski adanya pengorganisiran oleh PKI namun saat mendekati klimaks justru absennya patronase kepemimpinan yang hirarkis. Hanya saja yang berbeda dalam analisanya, Mestika Zed melihat bahwa militansi tidak hanya dipengaruh ideologi semata juga karena budaya konflik yang hidup dalam suatu lingkungan tradisi yang ikut mempengaruhi bagaimana kelompok tersebut bertindak.[3]

Bagian 6 dan Bagian 7 dalam buku ini menceritakan bagaimana aksi dan sikap kelompok-kelompok bertendensi anarkis sindikalis setelah entitas negara Indonesia diproklamirkan. Jika di masa kolonial garis demarkasi ideologis dan kepentingan dapat lebih mudah dipetakan antara otoritas kolonial beserta birokrasinya dengan kelompok pergerakan penentang kolonialisme sehingga arah sasaran perlawanan lebih jelas, sementara dalam kondisi revolusi pasca 1945 keadaan menjadi lebih kompleks karena arsiran kepentingan politik dan ideologis yang saling bertautan dan terkadang tersembunyi di antara faksi-faksi pendukung kemerdekaan. Diskursus menarik dihadirkan pada bagian ini yang pada akhirnya dapat terpetakannya anatomi politik sindikalis melalui perdebatan antara kelompok yang menghendaki agar alat-alat produksi tetap berada dalam kontrol pekerja dengan kelompok lain yang menganggap bahwa alat-alat produksi harus berada dalam penguasaan otoritas negara. Pada bagian ini sorotan lebih ditujukan pada kontestasi politik dan kekuasaan antara pemerintah Republik dengan oposisi di mana kelompok-kelompok bertendensi sindikalis beraliansi dengan kelompok penentang pemerintah lainnya.

Jika melihat pada judul buku seharusnya buku ini berhenti pada penjelasan di titik 1948, tetapi penulis sepertinya berusaha memperlihatkan keterhubungan dan kontinyuitas antara apa yang terjadi sepanjang masa pergerakan sampai masa revolusi Indonesia dengan generasi anarkis Indonesia yang muncul di pertengahan 1990-an. Sedikit banyak buku ini menjelaskan bagaimana kemunculan kembali gerakan anarkis dan dinamikanya di Indonesia terutama kaitannya dengan skena punk sebagai inkubator awal penyemaian anarkisme di era modern. Namun sayangnya penjelasannya  tidak seimbang dengan bobot pemaparan mengenai anarkis sindikalis sepanjang periode 1908-1948 karena dengan meloncat jauh 50 tahun ke depan menjadikan proses transformasi sosial ekonomi seakan tidak memberikan pengaruh apapun terhadap kemunculan generasi baru anarkis.

Bila ditarik ke dalam perdebatan yang lebih ilmiah maka muncul beberapa rumusan mengenai generasi baru anarkis yang dapat didiskusikan lanjut. Pertama, basis sosial anarkis generasi baru ini muncul. Kelahirannya selalu disangkutpautkan dengan punk tetapi dalam konteks analisa kelas tempat penyemaiannya seakan tidak terlalu disinggung apalagi jika mengaitkan tumbuhnya skena punk dalam relasi perkembangan kapitalisme (baca : globalisasi) dan negara otoritarian dengan pertumbuhan kelas pekerja perkotaan. Kedua, jika generasi awal anarkis di Indonesia lebih banyak tersemai dan mendapat dukungan dari kelompok pekerja, seperti buruh kereta api, pelabuhan, atau pabrik, generasi baru anarkis di fase awal cenderung berada di luar kelompok-kelompok tersebut meskipun pada perkembangan selanjutnya ide-ide anarkis sindikalis mulai diikuti dengan pembangunan jejaring dengan kelompok-kelompok buruh perkotaan dan hadir di kantung-kantung konflik agraria di pedesaan. Ketiga, dalam pengorganisasian jika menilik pada buku ini maka generasi awal anarkis adalah mereka yang kemudian menjadi pemimpin gerakan, dengan kata lain sebagai elit. Namun bila melihat kecenderungan besar yang terjadi pada generasi baru anarkis di mana terdapat usaha menghindari kerja-kerja organisasi yang hirarkis dan elitisme dalam kolektif-kolektif anarkis.

Pada dasarnya buku ini penting bagi gerakan anarkis di Indonesia yang selama beberapa tahun sebelumnya belum mampu memunculkan historiografi yang menjelaskan landasan sejarah anarkisme di Indonesia sekaligus menjadi narasi alternatif dari literatur-literatur sejarah baik yang berasal dari versi negara atau versi kelompok kiri mapan yang terbuang. Menjadi narasi alternatif selain karena adanya kebaruan data, juga terletak pada perspektif penulisan : anarkis menuliskan sejarahnya sendiri.

***
[1] lihat review Jurnal Amorfati #4 di www.manifestun.blogspot.com/2010/10/amorfati-4.html

[2] lihat Remi Madinier. 2015. Islam and Politics in Indonesia : The Masyumi Party Between Democracy and Integralism. Singapore : NUS Press.

[3] lihat Mestika Zed. 2004. Pemberontakan Komunis Silungkang 1927 : Studi Gerakan Sosial di Sumatera Barat. Yogyakarta : Syarikat Indonesia.

September 9, 2016

Rakyat Kecil, Islam dan Politik

Judul : Rakyat Kecil, Islam dan Politik
Penulis : Martin Van Bruinessen
Penerbit : Yayasan Bentang Budaya (Yogyakarta)
Tahun Terbit  : 1999 (cetakan kedua)
Tebal Halaman  :367 + xxviii


Buku ini merupakan kumpulan tulisan Martin van Bruinessen yang pernah diterbitkan di beberapa media massa seperti majalah Tempo dan harian Pikiran Rakyat pada pertengahan 1980-an dan 1990-an. Meski isinya menarik karena terdapat tulisan-tulisan Bruinesen tentang Islam di Indonesia, tetapi buku ini tidak seterkenal seperti Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat atau NU : Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru. Padahal artikel dan makalah penelitian yang dibukukan inilah yang mengawali penelitian Bruinessen mengenai Islam di Indonesia selama tiga dekade berikutnya. Hasil penelitiannya di Bandung ini yang kemudian mengantar Bruinessen untuk terlibat dalam penelitian-penelitian selanjutnya mengenai ulama dan pesantren di Indonesia.

Bagian pertama buku berisi kumpulan artikel yang pernah diterbitkan secara terpisah yang mengangkat pengalaman Bruinessen ketika melakukan penelitian di area sekitar Pagarsih – Jamika di kota Bandung selama kurun waktu 1982-1983. Selama melakukan penelitian satu setengah tahun, Bruinessen tinggal dan menjadi bagian dari penduduk sebuah kampung kumuh bernama Sukapakir. Bertetangga dengan keluarga-keluarga kelas menengah bawah yang seakan tidak pernah dapat keluar dari kemiskinan kecuali memenangi undian Porkas. Terasa digiring kembali ke suasana kampung di tengah Kota Bandung era 1980’an lengkap dengan cerita-cerita getir kehidupan para warganya. Kisah orang-orang kecil yang senantiasa berikhtiar tetapi terus menerus gagal.

Di antara masyarakat Sukapakir yang diamati terdapat sekelompok kecil orang yang mana Bruinessen menaruh lebih perhatiannya, yakni orang-orang yang lebih taat keislaman dan puritan dibanding masyarakat lainnya. Orang-orang inilah yang tergabung dalam Persis (Persatuan Islam), sebuah organisasi Islam konservatif yang berpusat di Bandung. Bruinessen mengikuti para pengikut Persis ini dari kesehariannya di lingkungan tempat tinggal, dan bagaimana fundamentalisme agama versi Persis berada dalam lingkungan kumuh dan kondisi kemiskinan. Beberapa kesimpulan Bruinessen mengenai fundamentalisme secara konseptual cukup baru untuk saat itu karena menguji teori deprivasi, dan dituliskan secara khusus yang ditempatkan pada bagian kedua dalam buku ini.

Dari buku ini juga terselip cerita-cerita menarik yang menceritakan awal mula kuliner dan jajanan pasar yang sekarang dikenal luas di Bandung seperti Siomay dan Baso tahu. Kemudian tersaji juga cerita bagaimana sebuah profesi biasanya identik dengan latar belakang asal si pelaku usaha, seperti tukang sepuh emas yang banyak berasal dari Garut, atau penjelasan yang menerangkan kenapa Indramayu sering dianggap sebagai penyuplai terbesar tenaga kerja untuk red light district di Kota Bandung. Jika pada buku dan tulisan Haryoto Kunto kita akan membaca keindahan dan keningratan kota Bandung, justru dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe versi Bruinessen ini memajang bingkai sisi gelap kota Bandung.

Setelah bercerita tentang Sukapakir dan liku hidup warganya, buku ini melaju ke bagian kedua yang terdiri dari beberapa essay mengenai politik Islam di Indonesia yang pernah terbit tahun 90-an. Bruinessen melihat bagaimana peran ulama dan cendikiawan muslim saat itu ikut membentuk wajah politik di Indonesia. Tulisan-tulisan Bruinessen ini tidak dapat dilepaskan dari konteks politik Orde Baru terhadap umat Islam., menjadi menarik karena di satu sisi kegiatan umat Islam diawasi dan dikontrol agar tetap jinak, di satu sisi represifitas Orde Baru telah juga telah memancing dinamika pergulatan intelektualitas yang luar biasa di kalangan para cendikiawan muslim Indonesia. Dalam konteks kajian Politik Islam Indonesia, pendekatan Bruinessen berbeda dari pendekatan modernis sebelumnya yang mendominasi penulisan dan pembingkaian Islam di Indonesia yang sedikitnya mengesampingkan peran ulama-ulama tradisional. Melalui pendekatan antropologi dan sosiologi, kajian Islam di Indonesia menjadi lebih kaya dan mampu menunjukan pemaknaan Islam yang beragam di kalangan masyarakat.

Diskursus mengenai fundametalisme dan radikalisme Islam dibahas di salah satu tulisan di bagian ini. Memulainya dengan coba meredefinisi fundamentalisme Islam dari berbagai narasi politik Islam dan perspektif. Pemaknaan fundamentalisme berpengaruh pada analisa bagaimana gerakan fundamentalis Islam tersebut dijelaskan. Dari penelitian lapangan langsung, Bruinessen mempunyai penjelasannya sendiri mengenai kelompok garis keras sekaligus menguji dan mengkritik ketidaktepatan teori deprivasi relatif untuk menjelaskan munculnya fundamentalisme Islam. Menurut Bruinessen, Radikalisme Islam sukar ditemui dari lingkungan miskin kumuh, namun tumbuh menyemai di kalangan orang-orang yang lebih berada, lebih berpendidikan, dan mempunyai ambisi yang lebih besar. Dengan kata lain, radikalisme justru digerakan oleh orang-orang kelas menengah, mereka yang mempunyai waktu luang untuk memulai ambisi politik karena  sudah tidak lagi sibuk mengurusi urusan perut.

Pada akhirnya Bruinessen juga menulis mengenai hubungan Islam dengan negara. Diskursus lama yang memancing perdebatan bahkan pemberontakan sejak negara ini berdiri, dan Bruinessen bercerita bagaimana dinamika gerakan politik Islam saat Orde Baru. Secara garis besar, para elit politik Islam menginginkan negara yang lebih mengakomodir hukum dan ajaran Islam ke dalam format sistem politik dan kenegaraan secara formal, sementara di sisi lain pemerintah yang berkuasa secara prinsipil tidak mengakomodir keinginan kelompok Islam tersebut. Meskipun mesti dicatat bahwa respon negara terhadap keinginan umat Islam itu tidak melulu menolak mentah-mentah dan beberapa kebijakannya menguntungkan umat Islam sebagai hasil dari proses politik.

Hal yang menyenangkannya dari buku ini ialah gaya bahasanya yang cukup ringan jauh dari kesan tulisan akademisi yang penuh dengan istilah-istilah ilmiah atau bahasa politik ala pengamat politik kekinian. Selain sebagai literatur mengenai politik Islam Indonesia, buku ini direkomendasikan untuk dibaca, khususnya, bagi warga Bandung yang ingin nostalgia ke Bandung 80’an, atau bahkan untuk para pengkritik Ridwan Kamil sebagai bahan berdebat bahwa kebijakannya terhadap orang-orang miskin sekarang sesungguhnya tidak berbeda dibanding Ateng Wahyudi tiga puluh tahun yang lalu.

August 29, 2014

No Compromise #5

Sekitar tahun 2002-2004, di saat zine-zine lokal masih begitu politis dan tema-tema anarkis mendominasi di jejeran terbitan zine/newsletter, lalu ada satu terbitan zine yang mempunyai perspektif berbeda dibanding zine lainnya yang terbit saat itu. No Compromise (selanjutnya akan disingkat NC) hadir jauh sebelum scene underground diramaikan dengan istilah metal satu jari atau gerakan anak punk yang tobat namun tetap ingin diakui eksistensi ke’punk’annya. Ketika Jaringan Islam Liberal ataupun gerakan penolakannya ITJ masih sesuatu yang asing di telinga anak muda, dan saat pertobatan-pertobatan ala rockstar belum ramai, zine ini sudah lebih dulu menolak liberalisme dalam arti yang lebih luas, bukan sekadar arti sempit liberal atau pluralisme yang sekarang begitu ramai dibincangkan santri dadakan.

NC menyajikan kritik-kritik politisnya berangkat dari perspektif keIslaman.  NC menyadarkan bahwa dinamika ajaran Islam sebenarnya menyediakan landasan pemikiran untuk menganalisa kondisi sosial-ekonomi-politik yang aktual. Karena itu isinya tampil begitu variatif, tidak melulu menghadirkan kisah ketidakadilan yang dialami oleh umat Muslim di berbagai belahan dunia, tetapi juga mengajukan ijtihad melalui analisanya. NC berbicara tentang propaganda AS, kapitalisme, filsafat barat, Ali Syariati, hak paten, bahkan wawancara dengan grup rap muslim Soldier of Allah, dan lain sebagainya.

Karena itu setelah 10 tahun zine ini mati, lalu ada yang melanjutkannya di edisi kelima maka muncul ekspektasi kalau terbitan yang paling baru ini akan sekeren yang dulu. Ternyata ekspektasi saya salah.

NC#5 menyibukan diri untuk mengkritik anarkis sekaligus berceramah kepada anak muda yang masih tertarik dengan imaji pemberontakan di luar radikalisme Islam versi editornya NC. “ceramah” di edisi teranyar ini terasa basi karena, pertama, kritik terhadap gerakan anarkis adalah hal lama yang pada edisi #3 dan #4 telah banyak disentuh tanpa harus seakan-akan bilang, “ah ngapain sih anarkis-anarkisan, lagian kami lebih radikal daripada kalian wahai kaum anarkis!”. Kedua, apa yang komunitas anarkis ataupun hc/punk lakukan yang dikritik pada NC #5 adalah hal yang ramai beberapa tahun lalu, tetapi sudah berbeda sekarang ini, apalagi sejak banyak anak punk kemudian lebih memilih memuja berhala baru bernama JKT48. Subcommandante Marcos, Food Not Bomb, vandalisme, atau semacam Shop Lifting sampai sekarang memang masih seru tetapi dinamika dan wacana yang hadir sudah jauh berkembang dan bervariasi dibanding apa yang disebutkan di NC#5, dan sialnya editor NC #5 masih juga menggunjingkan hal-hal tersebut seakan tahun ini masih di tahun SBY terpilih sebagai presiden untuk pertama kalinya.

Kesalahkaprahan Food Not Bomb (FNB) dinilai sebagai bentuk kedermawanan adalah satu hal yang paling umum terjadi seputar FNB. Editor NC#5 mengkritik yang salah kaprah itu, dan menjadi semakin salah. Kekeliruan itu  memang tidak hanya dialami oleh editor NC#5 saja, tidak jarang orang-orang yang tertarik berkegiatan FNB pun masih ada juga menganggap FNB sejenis perbuatan “baik hati”. Dalam FNB tindakan mendistribusikan makanan surplus hanyalah salah satu bagian dari kampanye mengenai pangan. Tanpa aksi lainnya, dan hanya membagikan makanan, FNB memang acapkali dilihat hanya sebagai kedermawanan. FNB tidak hanya dapat diaplikasikan dalam kampanye pangan, juga dalam menolak militerisme. Hanya saja sayangnya, wacana “bomb” pada Food Not Bomb di Indonesia sampai saat ini lebih pada membebek pada FNB luar, karena analisa seputar alutsista yang banyak dibahas di FNB AS ataupun negara barat lainnya berbeda jauh dengan konteks dan kondisi militer di Indonesia.

Mengkomparasikan FNB dengan zakat sebagai perilaku filantropis adalah sesuatu yang aneh. Zakat mempunyai fiqihnya tersendiri yang mengatur tentang pendistribusian harta kekayaan seorang muslim, tidak sebagai kegiatan sedekah semata. Bahkan untuk seorang muslim yang telah mencapai kondisi tertentu, pada segala profesi, zakat menjadi wajib. Di saat badan terpercaya penyalur zakat seperti Rumah Zakat belum hadir dan modernitas belum menyita waktu umat muslim untuk bekerja, pendistribusian zakat utamanya dilakukan sendiri oleh orang yang ingin berzakat. Tujuannya bukan sekadar urusan ibadah, tapi ada dampak sosial positif yang hadir tatkala seorang muslim berbagi dengan dan bersilaturahmi dengan seorang muslim lainnya. Itu dampak zakat di ruang sosial, belum lagi dampak zakat pada perputaran ekonomi, sehingga zakat tidak begitu saja hanya disebut sebagai tindakan filantropis.

Pengadvokasian Jihad pada NC#5 juga bisa dilihat dengan ditampilkannya beberapa profil “komandan” yang muncul dari konflik-konflik yang pernah meledak. Ditambah pada glosarium yang menjelaskan beberapa istilah dalam Jihad, yang seolah-olah perjuangan umat Islam yang pernah ada hanyalah melalui peperangan. Itu pun penjelasan yang dihadirkan hanya bagian radikalnya saja, sehingga konteks bagaimana munculnya “regulasi” Jihad dan peperangan dalam Islam menjadi tercerabut. Sampai di sini saya berasa sedang membaca situs Arrahmah, PKS Pyongyang, ataupun VOA-Islam yang gencar mempropagandakan Islam “hardcore”.

NC yang dulu begitu keren karena NC yang dulu tidak sekonyong-konyong bermain-main dengan istilah “kafir” dan “jihad” secara vulgar. Apa yang saya baca dulu adalah NC yang mengajak pembacanya untuk berpikir, sedangkan yang sekarang adalah NC yang mengajak berperang tanpa banyak berpikir. Sehingga saya sedikit ragu apakah yang menerbitkan NC #5 adalah kolektif Liberation Youth yang sama yang menerbitkan empat terbitan NC terdahulu atau hanya orang lain yang meminjam nama NC. Jika membandingkannya dengan terbitannya yang lama, dilihat dari kualitas tulisan dan isi, saya bisa bilang jika terbitan terbaru ini begitu menyedihkan.
---------------------------------------
No Compromise #5 untuk versi PDFnya bisa diunduh di sini

October 19, 2013

Akar Dalang

Judul : Akar Dan Dalang Pembantaian Manusia Tak Berdosa Dan Penggulingan Bung Karno
Penulis : Suar Suroso
Penerbit : Ultimus [Bandung]
Tahun Terbit : September 2013
Tebal Halaman : 264 + xxx

Rasanya baru akun twitter penerbit Ultimus yang menyajikan kultwit dengan jumlah kicauan yang cukup epic. Lebih dari 1000 twit meluncur dengan tagar AkarDalang, berisi cukilan-cukilan singkat dari naskah buku yang berjudul lengkap Akar Dan Dalang Pembantaian Manusia Tak Berdosa Dan Penggulingan Bung Karno. Bukan kesimpulan yang menjadi spoiler, tapi benar-benar bagian dari isi buku yang diurutkan dari awal hingga akhir naskah. Sebelumnya Ultimus telah banyak membukukan tulisan-tulisan berupa memoar, puisi, ataupun essay dari orang-orang yang sedikitnya pernah kehilangan haknya sebagai manusia bebas akibat huru-hara politik Indonesia pada 1965. Buku ini adalah salah satunya. Ditulis oleh Suar Suroso, seorang Indonesia yang bermukim lama di luar negeri, yang karena latar belakang politiknya oleh Orde Baru diingkari keberadaannya.

Cerita seputar peristiwa 1965, PKI, ataupun kelompok kiri di Indonesia selalu menjadi topik yang ‘seksi’ untuk disimak, menjadi daya tarik dan nilai jual tersendiri. Terbukanya selubung gelap sejarah menjadi ekspektasi lebih ketika memulai membaca buku yang ‘kekiri-kirian’. Saya menikmati sajian kisah sejarah PKI di buku ini sampai-sampai lupa dengan ekspektasi awal untuk mencari beberapa jawaban mengenai rentetan peristiwa pemanggilan para Jenderal pada 1 Oktober 1965 dini hari. Namun buku ini nampaknya memang tidak dimaksudkan untuk kembali menjabarkan kronologis peristiwa pemanggilan para perwira tinggi TNI AD. Suar Suroso melihat huru-hara tahun 65 itu dari sisi yang lain, memaksudkan konteks perang dingin untuk menjelaskan penyebab layar gelap dalam sejarah Indonesia tersebut.

Logika yang berusaha dibangun melalui buku ini diawali dari penjelasan kondisi politik dunia saat perang dingin, di mana Blok Barat dan Blok Timur yang saling berebut pengaruh di negara-negara dunia ketiga. Kondisi ini dikerucutkan pada penyajian fakta mengenai keterlibatan pemerintah AS dalam penggulingan-penggulingan kekuasaan di beberapa negara untuk kemudian mendudukan pemerintahan baru yang dapat dikontrol oleh AS. Dari sana kemudian ditarik benang merah dengan yang terjadi di Indonesia, pecahnya peristiwa Gestok yang memicu tergulingnya Soekarno dan diberangusnya PKI.

Kebijakan luar negeri AS yang oleh Suar disebut-sebut sebagai politics of concealment dan politics rollback ditengarai menjadi kebijakan awal yang menjadi akar permasalahan peristiwa 65. Pelaksanaannya dikaitkan dengan aktivitas kelompok komunis di Indonesia yang dilihat sebagai ancaman kepentingan AS. Latar belakang peristiwa 65 ini ditarik Suar jauh ke belakang yang nampaknya tidak terpilah mana peristiwa yang dapat diajukan sebagai benang merah dan mana yang hanya berupa kisah bagian dari perkembangan PKI. Cerita menarik justru pada pemaparan versi lain dari sejarah perkembangan PKI sejak masih menjadi sempalan di Syarikat Islam sampai tahun 1965. Dalam pemaparannya tidak jarang menyelipkan stereotype ‘Trotskis’ pada kelompok kiri lainnya yang ‘murtad’ dari PKI.

Saya lebih suka untuk menyebut buku ini sebagai historiografi PKI dibanding jika disebut sebagai salah satu versi dari penyingkapan seputar peristiwa Gestok. Karena toh porsi di dalamnya lebih banyak memuat sejarah perkembangan PKI, daripada berjibaku untuk menjelaskan dokumen-dokumen penting dan penerapannya sebagai bukti otentik persekongkolan antara dinas intelijen AS dengan sekelompok perwira di tubuh militer Indonesia sebagai dalang penggulingan Soekarno. Karena itu cukup disayangkan jika pertautan itu cenderung tergeneralisir dan justru lebih banyak diarahkan pada kiprah PKI yang membahayakan pihak barat, sehingga seakan-akan buku ini hanya menjadi bentuk pembelaan Suar untuk partainya dulu.

August 21, 2011

Distraction Zine #4

Mendengarkan EP bertitel Siaran Percobaan dari band indie pop asal Bandung, Siaran Langsung, sepertinya cukup memberikan semangat lebih di pagi yang cerah ini. Balutan musik indie pop dengan lirik yang ringan namun kritis dan sarkastis. Bercerita tentang hal-hal yang nampak lumrah namun sebenarnya ironis, seperti kisah tentang dramatisasi ujian anak sekolah (dalam lagu UAN) ataupun sindiran atas ketidakpedulian para intelektual dengan kondisi sosial (dalam lagu Tridharma). Untuk sedikit gambaran bisa sedikit merujuk pada Efek Rumah Kaca, tapi berbeda dengan ERK yang cenderung gelap dan gloomy, Siaran Langsung memainkan musik yang lebih “ceria”, cocok untuk menaungi kegembiraan tanpa harus lupa bahwa masih ada masalah pelik yang terjadi di sekitar. Trio ini berdiri sejak 2005, terdiri dari para personil yang sebenarnya sudah lama terlibat di scene musik indie dan hardcore di Bandung, seperti sang gitaris, Oggy, adalah mantan personil Authority (sekarang berubah nama menjadi Anaking), band hc/metal. Tapi baiklah saya cukupkan bicara tentang musik yang dimainkan Siaran Langsung karena saya sedang mereview zine. Interview dengan Siaran Langsung sendiri ada di Distraction, dan sebenarnya EP yang dirilis dalam format cd-r tadi merupakan pelengkap dari Distraction edisi keempat ini.

Selain wawancara dengan Siaran Langsung, di zine ini ada wawancara menarik dengan band hc/punk/grind lainnya, seperti Anal Blast Terror, Rottingrex, Siluman Gulali, dan band grindcore asal Turki, Sakatat. Wawancara dengan Siaran Langsung yang paling panjang dan menarik untuk dibaca sampai tuntas. Bukan karena Siaran Langsung menyertakan EP mereka dalam zine ini tapi Siaran Langsung benar-benar menggunakan interview ini untuk menjelaskan pesan yang ada dalam lirik-lirik yang mereka buat. Jawabannya memang sedikit “berat” tapi itu adalah porsi yang memang sewajarnya diutarakan jika melihat pada bobot liriknya yang kritis.

Terus terang, seringkali wawancara dengan sebuah band sungguh layak disimak bukan hanya karena jawaban dari bandnya yang bagus, tapi dari bagaimana si pewawancara melontarkan pertanyaan yang bisa memancing si band untuk menjelaskan. Hal itu tentu lebih baik daripada wawancara yang terlalu “nyeleneh”, jawabannya dibuat senyeleneh mungkin, dan pertanyaan pun malah menjadi dangkal karena mungkin si pewawancara tidak terlebih dahulu mencari informasi mengenai band yang akan diwawancarainya. Wawancara tentu saja bukanlah tulisan seperti profil band di MySpace yang hanya ditambahi kalimat tanya.

Seperti komposisi zine hc/punk pada umumnya, di zine ini pula ada review zine dan rilisan, juga ada review film dari seorang geeks (?), skateboarder, eks vokalis Anjing Tanah (AxTx), dan pastinya peresensi film yang bisa membuat kita berpikir jika seorang Guy Fawkes tidaklah lucu jika diadaptasi dalam novel grafis dan tentu saja film, yeah ini dia Bembie aka Zombem. Kali ini Zombem mereview film Scott Pilgrim vs The World, sebuah film yang diangkat dari novel grafisnya Brian Lee O’Malley. Bagaimana cara Zombem mereview bakal terbayang jika di antara kalian sering menyambangi situs keramatnya Zombem di www.hisheroisdemon.wordpress.com. Oh iya, di sini juga ada kolom dari Azhari Ayub dan Craig Lewis. Dalam kolom yang berjudul Saya Punker, Apa Ada Masalah Dengan Saya? Azhari menumpahkan kekesalan dan protesnya sebagai respon digaruknya anak punk dan anak jalanan di Aceh. Tulisan tendensius dan cukup politis dari seorang yang menilai bahwa punk adalah ideologi. Tetapi sayang sepertinya Azhari lupa bahwa punk di Indonesia dan di tempat lainnya di dunia tidak mempunyai kesadaran politis yang sama. Jika saja setiap anak punk mempunyai kesadaran politis yang sama sepertinya gerak dunia ini akan berbeda.

-----
Kontak dan Link :


December 6, 2010

A Brief History of Graffiti

Illustrator : W. Dania
Penerbit : Wild Drawing Comic

Pembelajaran sejarah lebih menarik untuk dikaji melalui gambar (tentu saja selain melalui audio visual). Sejarah tidak lagi membosankan, tidak melulu berisi teks-teks panjang sehingga menjadi lebih mudah terbayang dan menyenangkan. Tanpa kreativitas dalam penyampaiannya mungkin sejarah akan makin sedikit peminatnya.

Dalam komik yang dibuat oleh Dania ini, sejarah Graffiti coba diringkas menjadi rangkaian gambar bercerita. Tapi sepertinya penekanan komik ini tidak pada sejarahnya namun pada ilustrasi yang tersaji. Alur cerita  yang dinarasikan oleh Wild Drawing (wede), tokoh berkepala “grotesque” mirip topeng Halloween, terlalu singkat dan di beberapa bagian bahkan terkesan loncat-loncat.

Perkembangan sejarah graffiti dari berbagai belahan dunia coba dirangkum dan dijelaskan melalui gambar tapi sayangnya di bagian ketika Wede menjelaskan perkembangan grafitti di New York jalan cerita menjadi sedikit melompat.  Sejarahnya tidak sampai tuntas diceritakan lalu langsung beralih ke tempat lain, yang juga sejarah perkembangannya tidak dibahas banyak sehingga kurang terlihat keterkaitan antara perkembangan graffiti di satu tempat ke tempat lainnya. Terkesan tanggung  dan  kurang menghantarkan. Menggembirakannya di bagian belakang ada glosarium berisi istilah-istilah di dunia graffiti yang informatif dan disertai referensi buku-buku yang dipakai dalam penyusunan komik ini.

Bagi yang menyukai gambar, ilustrasi, dan graffiti pasti akan menyukai buku komik ini. Sayangnya tidak terlalu memuaskan untuk yang mengharapkan sebuah komik sejarah beralur cerita kuat. Tetapi setidaknya dengan membaca komik yang informatif ini tidak lagi memunculkan pertanyaan paradoks, “Graffiti itu seni atau vandal ya?”

October 30, 2010

Amorfati #4

Amorfati #4
Ukuran : 26 x 19 cm
Jumlah halaman : 40 hlm
Harga : Rp. 10.000

Amorfati edisi empat ini lebih “membumi” dibandingkan tiga edisi sebelumnya yang isinya begitu langitan. Tendensi anarkis insureksionis dalam edisi ini bertemu dengan ilustrasi dan contoh kasus yang lebih cocok dengan kondisi lokal Indonesia daripada memberikan gambaran insureksi di luar negeri, yang mungkin tidak semua orang bisa melihat benang merah antara satu kejadian dengan relevansi hidupnya di sini. Terjadinya kerusuhan di Athena dipicu tertembaknya seorang anarkis muda, namun apa yang bisa dipelajari dari kejadian tersebut bagi kita yang ada di Indonesia? Bukankah di Indonesia hampir setiap harinya anak jalanan harus bersitegang dengan Satpol PP hanya untuk mencari penghidupan?

Seperti penjelasan di halaman awal, Amorfati saat ini dikelola oleh beberapa orang dengan tendesi lebih beragam sehingga cukup memberi pengaruh pada perubahan konten secara keseluruhan. Substansi yang paling penting dari perubahan ini ialah adanya keinginan untuk menggali akar politik yang bersifat anti otoritarian yang salah satunya melalui penyajian sejarah dan peristiwa lokal. Kenapa saya mengatakan sejarah lokal? bangkitnya perlawanan di sebuah daerah terhadap pemerintah pusat atau otoritas negara tidak pernah ditulis secara memadai sebagai akibat hegemoni nasionalisme. Cerita sejarah tersebut hanya berputar di area lokal diceritakan dari mulut ke mulut, tapi tidak jarang disangkal oleh pemerintah pusat meskipun peristiwa tersebut nyata terjadi.

Peristiwa tiga daerah yang terjadi pada masa revolusi kemerdekaan, adalah salah satu sejarah yang diingkari oleh sejarah resmi versi negara. Beruntung masih ada Anton Lucas, seorang sejarawan Australia yang menelitinya dan kemudian membukukannya. Di Amorfati edisi ini, peristiwa tiga daerah kembali diulas, dengan mengkorelasikannya pada perlawanan masyarakat terhadap institusi negara hari ini. Anggap saja peristiwa tiga daerah adalah petunjuk bahwa sejak negara ini diakui merdeka, para petani dan lumpen telah terbiasa melawan otoritas, dan kini perlawanan itu masih terjadi dengan latar belakang kontemporer. Tercatat beberapa essai serta interview mengenai gerakan perlawanan dari beberapa daerah dimuat di Amorfati, seperti perlawanan di Kulon Progo, Takalar, Makassar, dan Deli Serdang.

Edisi ini ditambah juga review filmnya James Cameron, Avatar, buku Letter of Insurgents dan review album Kamar Gelap (2008) dari Efek Rumah Kaca yang terlalu maksa untuk dimuat sebab reviewnya terlalu biasa, kadaluarsa, dan semua orang sudah tahu ERK seperti apa. Ada beberapa tulisan lagi di terbitan yang kini tampil seperti majalah. Isinya memang tidak sebanyak edisi sebelumnya, tapi ya seperti sudah saya bilang di awal, Amorfati kini lebih “membumi”.

October 25, 2010

Ekonomi dan Struktur Politik Orde Baru 1966-1971

Penulis : Mochtar Mas’oed.
Tahun Terbit : 1989
Penerbit :  LP3ES
Jumlah Halaman : 248 + xxi

Buku ini bisa dikatakan buku klasik, dan saya beruntung mendapatkannya di sebuah rak di toko buku. Terselip di antara buku-buku bersampul lebih menarik dibanding buku ini yang lebih mirip lambang Golkar. Dilihat dari luar buku ini sama sekali tidak menarik, meskipun begitu bisa saya katakan kalau buku ini isinya adalah yang paling sederhana menguraikan struktur kekuasaan Orde Baru dibandingkan buku-buku sejenis yang ditulis oleh para Indonesianis asing seperti Richard Robinson atau William Liddle. Namun tidak berarti buku ini kalah berbobot dibandingkan buku yang ditulis oleh para Indonesianis asing.

Untuk mengurai permasalahan yang terjadi di awal Orde Baru ini, Mochtar Masoed mengutamakan pendekatan struktural dengan melihat relasi antara variabel-variabel ekonomi dan politik. Modifikasi pendekatan digunakan dengan mengkombinasikan teori otoritarian-birokratik dari Guillermo O'Donnell dengan korporatisme-negara'nya Philippe C. Schmitter. Kombinasi teori ini digunakan untuk menganalisa struktur ekonomi politik Indonesia di mana modernisasi dan industrialisasi yang digalakan oleh Orde Baru juga telah memunculkan otoritarianisme dan kecederungan negara yang otonom. Negara terlepas dari kepentingan masyarakat kelas menengah bawah dan melakukan stabilisasi politik tidak hanya melalui kekerasan tetapi dengan pembentukan-pembentukan organisasi yang disponsori negara untuk menjinakan setiap golongan yang beroposisi terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Artikulasi kepentingan borjuis nasional belum dapat mempengaruhi negara dikarenakan saat itu tidak kuatnya kelompok tersebut, maka negara melakukan modernisasi sebagai bentuk akomodasi terhadap pengaruh ekonomi internasional. Variabel kepentingan ekonomi internasional menjadi penting karena sejak 1966 Indonesia tidak terlepas dari dinamika kapitalisme internasional yang menjadi pendorong pembangunan industri di Indonesia.

Lingkup waktu pembahasan buku ini ialah antara tahun 1966-1971, saat pemerintahan baru pasca percobaan kudeta 30 September 1965 berupaya memapankan kekuasaannya. Upaya ini dijalankan dengan melakukan perombakan politik diikuti pembenahan ekonomi sebagai cara utama untuk memperoleh kepercayaan masyarakat dalam negeri dan komunitas internasional. Langkah politik paling besar ialah mengganti para pendukung Sukarno dengan orang-orang yang dianggap sejalan dengan kebijakan Orde Baru. Hal ini dilakukan untuk menciptakan tertib politik guna menghindari ketidakstabilan akibat pertentangan-pertentangan kepentingan politik dan ideologis, terutama penentangan terhadap kebijakan baru yang ditempuh. Semakin mengguritanya kekuasaan Orde Baru dipercepat dengan dibentuknya berbagai organisasi-organisasi korporatis yang langsung berada di bawah arahan pemerintah.

Program ekonomi yang menjadi fokus utama pemerintahan baru ini ialah dengan mengundang partisipasi kapitalis internasional untuk berinvestasi di Indonesia. Langkah ini diambil untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang hampir porak-poranda akibat huru-hara politik yang terjadi selama pemerintahan Orde Lama. Kebijakan ekonomi baru ini secara otomatis merubah struktur ekonomi Indonesia menjadi lebih terbuka dan liberal. Akibat dari kebijakan politik dan ekonomi ini maka munculah patronase berlebihan terhadap lembaga kepresidenan di mana kemudahan ekonomi dan akses politik hanya berada di lingkaran-lingkaran terdekat presiden, baik pejabat birokrat, militer, maupun pengusaha yang diberikan hak monopoli. Topangan kekuasaan inilah yang kemudian mampu bertahan selama 32 tahun.

Mewacananya pemberian gelar pahlawan untuk Suharto sekarang ini telah juga (untuk beberapa kalangan) membangkitkan kerinduan akan masa Orde Baru. Letak relevansi buku ini yang paling penting ialah menguraikan betapa busuknya pemerintahan Orde Baru di mana akses ekonomi dan politik hanya dimiliki oleh segelintir elit. Kestabilan ekonomi selalu menjadi alasan utama kerinduan tersebut nyatanya dapat dipertahankan dari hutang luar negeri yang begitu besar (yang pada akhirnya meledak pada 1997). Kerinduan yang mungkin cocok untuk Pulau Jawa saja, karena pada pemerintahan Orde Baru, melalui pengelolaan negara yang sentralistis telah menutup pintu desentralisasi dan otonomi daerah, dan tentu saja hal ini berarti memperkecil (yang memang sudah terbatas) partisipasi masyarakat di luar Jawa.

October 18, 2010

3 Way Split Zines

3 WAY SPLIT ZINES
Ukuran : A4
Harga : Rp. 7.500,-
Kontak Distributor : anakmuda@gmail.com atau Dendrew (02292680689 / 085793555205)

Sekarang memang sedang musimnya penerbitan zine dikompilasikan atau bahasa kerennya split zine, ada yang bilang juga zine keroyokon. Setelah seven ways split zine yang beberapa bulan lalu keluar, kini ada lagi three ways split zines yang diisi oleh Twisted Nerve, Faggot Bulletin, dan Menghamba Mesin Photokopi. Kebetulan dua dari zinemaker di three ways split zines ini (Menus dan Mila) ikut juga di Seven Ways Split Zine dulu. Saya mendapatkan zine ini langsung dari Mila dan dengan senang hati pula saya akan mereview Twisted Nerve pertama sesuai urutan penempatannya yang paling depan dari dua judul zine lainnya.

Twisted Nerve (TN) tidak jauh berbeda dari zine Mila sebelumnya yakni Pussy Wagon (PW). Masih berisi beberapa tulisan personal lengkap dengan review film yang menjadi ciri khas dari zine-zine yang dibuat oleh Mila. Review film ini ada di bagian awal, di mana film Wild Tiger I have Known yang diinterpretasikan cukup detail dan lebih menariknya lagi cerita mengenai film itu direlasikan dengan kehidupan personalnya. Yup, inilah bagian yang paling saya suka dari reviewnya si Nyong ini. Kemudian masih berhubungan dengan film, di sini ada list berisi 10 Fucked Up Movie yang mungkin sedang disenangi Mila sekarang. Ya saya bilang sekarang karena bisa jadi sebulan lagi listnya bakal berubah. Di TN ini justru yang lebih dapat dinikmati ada di bagian tulisan personal, yang lebih “berat” dibandingkan tulisannya di PW. Lebih “berat” karena cara penulisannya yang tidak “senyeleneh” di PW, dan pembahasannya ya katakanlah lebih rumit, namun tetap dengan gayanya yang khas. Di zine yang dibuat secara cut n paste ini ada interview dengan The Frankenstone, sebuah band punk rock n roll dari Jogja yang sedikit absurd dengan musik yang dapat membuat sosok inferior di tengah pergaulan menjadi lebih cool dengan kejelekannya itu. Sayangnya di interview ini The Frankenstone kalah absurd dengan si pewawancara yang memang sudah terlalu absurd. Ada sebaris kalimat di TN yang sepertinya menggambarkan sosok Mila secara pribadi; “(Saya) gampang seneng, gampang sedih, gampang senengnya lagi. Ya ampun saya memang cewek gampangan”. :D

Selanjutnya adalah sebuah zine yang dibuat oleh Donald dari Jambi, Faggot Bulletin (FB) edisi empat. Zine ini sangat informatif, karena di dalamnya begitu banyak informasi tentang grind, noise, dan punk, yang mungkin sebelumnya saya kurang tahu, atau cuma dengar. Terus terang, saya rekomendasikan untuk kalian yang sedang tergila-gila dengan musik grindcore/noise/punk whateva lah. Saya yang newbie akan musik begitu terpuaskan setelah membaca FB meskipun mesti membacanya dengan bersusah payah buka kamus karena FB ditulis dalam bahasa Inggris. Di dalamnya selain beragam informasi mengenai grind dan noise (penjelasan secara definitif) juga ada interview dengan Bestial Vomit saat band dari Italia ini tour di Indonesia, dan tentu saja review rilisan musik. Donald hanya mereview rilisan rekaman musik yang dicetak di cd-r/cd burning. Saya penasaran kenapa rilisan yang direview hanya rilisan dalam cd-r saja. Apa mungkin supaya kadar DIYnya semakin kental? Entahlah. hhmmm. 

Bagian terakhir adalah Menghamba Mesin Photokopi (MMP), zine dari Menus ‘Big Papa’, vokalis band grindcore To Die. Diawali dengan tulisan personalnya Menus tentang kehidupan pribadinya yang baru saja menikah juga tentang orang-orang di sekitarnya. Selain itu di bagian ini Menus membahas tentang zine serta pendapatnya mengenai lay out dalam pembuatan zine. Di sini saya ingin sedikit berpendapat karena pendapat saya ada yang berbeda dengan Menus di tulisannya itu. Saya sependapat dengan Menus bahwa isi sebuah zine jauh lebih penting daripada lay outnya, cuma bagi saya bahwa baik isi, substansi, ataupun esensi dari sebuah zine dapat sampai kepada pembaca jika didukung dengan tampilan yang tidak menyulitkan pembaca. Mau lay-outnya cut n paste, ditulis tangan, atau dibuat dengan software grafis dengan hasil yang terlihat begitu absurd, bukanlah menjadi persoalan asalkan apa yang ingin disampaikan oleh si zinemaker dapat sampai dan dimengerti oleh pembaca. Memang sebuah zine tidaklah harus begitu menarik secara estetika, namun bila sebuah zine dibuat sebagai sebuah media komunikasi maka cara untuk mengkomunikasikan ide dan informasi itu mesti juga diperhatikan. Berbeda jika zine hanya sebagai media berekspresi, toh mau dibaca ataupun idenya sampai atau tidak juga nggak jadi masalah, karena memang dibuat hanya untuk berekspresi secara pribadi dari si zinemaker. Jika dalam dua zine sebelumnya terdapat review film dan rilisan, maka di MMP giliran review zine yang dihadirkan. Tiga zine yang dimuat dalam satu terbitan ini saling mengisi satu sama lain karena berbeda tiap karakter zinenya namun menjadi sebuah terbitan yang sangat layak dinikmati secara keseluruhan.

October 7, 2010

Lust Slash Desire #1


ukuran : setengah A4 (lihat gambar)
jumlah halaman : 100 hal.
harga : Rp. 7000,-
kontak :  delirious.hyena@yahoo.com

Akhir-akhir ini saya sedikit bosan dengan zine-zine politis, apalagi kalau tulisannya itu-itu aja. Misalnya anarkisme yang sejak awal 2000’an terus dibahas sehingga lebih nampak seperti tulisan yang hampir sama diulang terus menerus. Sepertinya malah sebuah zine baru bisa dikatakan sah sebagai zine politis jika mengulas tentang anarkisme. Atau zine yang nampaknya tidak akan bisa dikatakan sebagai zine hardcore jika tidak membahas mengenai veganisme. Untungnya ada Lust Slash Desire yang cukup mengobati kemandegan publikasi zine yang menuju arah membosankan itu. Ada dua alasan kenapa saya bisa bilang kalau zine ini cukup ‘kick ass’.

Pertama, konten zine beda dengan zine-zine kebanyakan. zine ini banyak membahas eksplorasi seks sampai ke titik yang cukup terjal seperti bondage dan sado masochist namun penulisannya jauh dari seperti karangan-karangan imajinatif murahan seperti di 17tahun.com atau ceritaseru.com dan tidak berisi panduan gaya bercinta untuk pasutri seperti kamu membaca kamasutra. Hampir keseluruhan tulisan di dalamnya merupakan tulisan personal dari setiap kontributornya dengan gaya bahasa yang bisa dikatakan sederhana dan mudah dimengerti. Penggunaan kata bahasa inggris cukup tepat digunakan untuk kata-kata yang memang tidak ada padanannya dalam bahasa indonesia, atau jika dibahasaindonesiakan akan mengurangi ekspresi dari si penulis. Istilah-istilah yang asing di dalam badan zine dijelaskan definisinya pada bagian glosarium di bagian akhir zine. Dilihat dari kontennya jelas berbeda dari zine-zine sebelumnya walau tidak begitu baru juga. Kedua, zine ini informatif. Dari setiap tulisan yang ada di dalam zine ini hampir semuanya memuat informasi-informasi baru yang berkaitan dengan praktik eksplorasi seks, salah satunya ialah sebuah artikel cara membuat Shibari (bentuk ikatan dan simpul tali yang digunakan dalam praktik bondage) di halaman 53. Selain itu disertakannya review film, buku, ataupun komik yang  menjadi cult untuk para penggemar praktik bondage dan sado masochist.

Ada yang sedikit mengganjal bagi saya dan ingin menanyakannya pada sang editor. Kenapa tulisan Mrs.O yang berjudul She Was Not (halaman 62) tetap dimuat dalam bahasa Inggris dan tidak diterjemahkan saja? Entah karena malas menerjemahkan atau apakah karena penggunaan bahasa Inggris lebih dapat mempertahankan substansi tulisan itu?hhhmmm. Lalu ada hal kecil namun bagi saya justru sepertinya menurunkan tensi di titik yang hampir klimaks ketika membaca, yakni pada bagian yang ditulis oleh Isis (halaman 23-48). Di beberapa bagian tulisannya sang penulis menggunakan kata sebut “aku” untuk menunjukan dirinya dengan langgam penulisan yang bisa dikatakan cukup puitis dan “nyastra”, tapi di bagian lainnya ia menggunakan “saya” dengan gaya penulisan yang menurun drastis menjadi terlalu sederhana seperti obrolan sehari-hari. Oh iya, ilustrasi-ilustrasi di zine ini begitu bagus dan cukup berelasi dengan tulisan di mana ilustrasi tersebut diletakan. Secara keseluruhan, zine ini sungguh harus dibaca. Namun tidak direkomendasikan untuk kalian yang terlalu normatif, moralis, atau yang berharap zine ini berisi artikel tentang bahaya rokok bagi kesehatan organ reproduksi!